Sabtu, 27 Januari 2018
prakarya
Om swastiastu
Nama saya I Putu Krisna Ekayana
Kls XI IPS 2,Saya dari Bitera,saya
Biasanya dipanggil eka di sekolah
Saya akan membayangkan Leicester City Juara Liga Champions.
Bola yang membentur pundak Robert Huth itu bergulir pelan
saja di antara kaki dua bek Juventus yang terkejut. Dan
Gigi Buffon yang ingin pensiun dengan gelar Liga Champion
hanya bisa memukuli permukaan lapangan, menyesali diri
sendiri, karena ada di posisi yang salah. Ia meraung, tapi
segera meraih bola dari sudut jaring gawangnya, menepuk
keras punggung beberapa beknya yang masih tercengang, dan
meminta Paulo Dybala untuk segera membawa bola ke
lingkaran tengah. Pertandingan sudah ada di menit 117
perpanjangan waktu babak kedua, setelah 90 menit
pertandingan normal gagal menghasilkan gol. Diawali dari
lemparan ke dalam jauh dari Christian Fuch, yang kemudian
disambut sundulan ke belakang oleh Jamie Vardy, Huth,
seperti biasanya, ada di tempat yang tepat. Di antara
kerumunan, dan dengan sedikit kekagetan, ia menyambut bola
liar dari Vardy dengan kepalanya yang memanjang. Bukannya
kepala, bola itu justru melintir ke pundak. Itu jelas bukan
cara terbaik sebuah sundulan dilakukan, lebih-lebih di
pertandingan final Liga Champions. Tapi siapa peduli? Itu
gol.Itu GOL! Beberapa ribu pendukung Juventus melongo,
membekap kepala—mereka mengutuki diri, kenapa hal ini
terjadi lagi, dan lagi, kepada mereka. Namun, seisi Stadion
Millenium Cardiff sisanya meledak oleh rasa terkejut yang
indah. Dan tiga menit setelahnya adalah sejarah.Tentu saja,
tiga paragraf pembuka di atas cuma karangan saya. Sebab,
hanya orang ngarang yang akan menebak Leicester City mencapai
final Liga Champions,apalagi sampai memenanginya. Tak perlu
bertanya kepada mesin pencari untuk tahu ada di posisi mana
dan perbandingan berapa Leicester diunggulkan di rumah-rumah
judi di Eropa. Di antara raksasa macam Real Madrid, Barcelona
,Bayern Munchen,dan Juventus, atau bahkan klub dengan klub
macam Atletico dan Monaco, Leicester jelas bukan apa-apa,
bukan siapa-siapa. Tapi, kalau kita belum lupa, siapakah
Leicester City sebelum mereka menjadi juara Liga Inggris
sepuluh bulan lalu? Mereka adalah tim yoyo, yang dikenal
karena hanya sesekali nongol di liga level atas. Enam
musim sebelum bermain di Liga Champions untuk pertama kalinya
,mereka masih terjerembab di liga kasta tiga. Naik ke Liga
Ingris pada musim 2014-15, mereka lolos dari degradasi dan
bisa bertahan di Liga Premier karena tujuh kemenangan ajaib
di akhir kompetisi
Pendukung tim-tim besar, mungkin termasuk saya, boleh jadi
akan kecewa. Orang-orang yang memuja sepakbola indah akan
menyesalinya. Bagaimana bisa tim dengan materi buruk, bermain
sangat sederhana, dan sedang berjuang dari degradasi di liga
domestiknya, bisa juara? Mungkin begitu pertanyaannya. Tapi,
jika klub macam Leicester bisa juara, ia akan memberi
pelajaran lain tentang sepakbola—sebagaimana sebelumnya Eropa
pernah mendapatkannya dari Denmark dan Yunani. Ia akan
menunjukkan keindahan sepakbola dari sisi yang berbeda. Bahwa
Sepakbola adalah permainan yang mengelak dikira, menolak
disangka. Ia menyajikan apa yang tidak kita bayangkan.
Sekian dulu informasi tentang sepak bola dari saya
Semoga bermanfaat bagi kalian semua ya.
Jangan lupa komennya kawan
Matur suksmaπ
Om Santi Santi Santi Om
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
ππ
BalasHapusπππ
BalasHapusπ
BalasHapusπ
BalasHapusπππ
BalasHapusπππ
BalasHapusBagus
BalasHapusSangat berfaedah
BalasHapusππ
BalasHapusTopπ
BalasHapusππ
BalasHapusππ
BalasHapusBagus
BalasHapusππ
BalasHapus